Monday, August 20, 2007

Hidup itu candu

Ladies come, ladies go through my revolving door. Some are never come back, some are back for more.
-Papa Roach, Revolving Door


Orang Jawa bilang urip iku mung mampir ngombe. Buat saya (yang punya orangtua berkultur Jawa hybrid dengan budaya Jakarta pada umumnya), mampir ngombe ini mengasyikkan sekali. Banyak tanjakan dan turunan berkecepatan tinggi yang sering bikin deg-degan ngeri namun menyenangkan. Dan, meskipun sering terjatuh dan mendapat luka-luka perih, edannya, kok ya nagih!

Ibu saya sering bilang saya seperti buku terbuka dan orang bisa bebas 'membaca' saya tiap saat. Hey, saya cuma nggak mau bertopeng. Capek. Saya adalah saya dengan bekas parut yang mengering, meski kadang bakal ketambahan beset-beset, lebam dan lecet karena turun-naik yang nggak bikin kapok itu.

Satu hal yang ibu saya nggak tau adalah saya menganggap 'mampir ngombe' ini lahan dimana manusia saling membutuhkan satu sama lain dan dengan alasan itulah kita diciptakan. Meski kadang kita sering jadi homo homini lupus alih-alih jadi homo sosialis (atau homo beneran?).

Tapi alam semesta dan The Greatest Power yang menciptakannya sungguh Zat Yang Maha Lucu dan memiliki humor satir yang amat sangat getir. Seringkali yang kita dapat bukanlah yang kita inginkan. Kelebihan yang kita punya adalah sesuatu yang diperlukan untuk menutupi kekurangan dan menodai kesempurnaan yang nggak pernah bisa kita raih (karena, konon, kesempurnaan itu hak prerogatifNya). Mirip anjing yang mengejar ekornya sendiri. Lucu, kan?! Jadi, buat apa dong kita ada?!

Untung saya nggak ngambekan dan menghujat-hujat berkah terindah yang berawal dari terhukumnya Pak Adam dan Bu Hawa. Lha wong udah kebancut jeh. Mending sit back, relax, and enjoy the ride.

Tapi... Emang bisa relax?
Ternyata nggak! Yang saya pelajari selama ini adalah: perjuangan tidak akan pernah berujung selama hayat dikandung badan. Merdeka!!! (Lho?!) Untuk live the life to the fullest, saya nggak boleh egois karena banyaknya penghuni dunia, dari yang kasat sampai yang tidak kasat mata, dan saya juga harus mengenali mereka. Tiap hari mungkin ratusan wajah terlintas di depan mata saya, yang saya temui di jalan, bis, kantor, taman bermain, toko buku, mall, warnet, warung, de es be, de es te. Dari beberapa ratus per hari itu ada sebagian yang terangkum dalam jaring tidak terlihat, entah itu mengambil bentuk sebagai teman, rekan kantor, klien, buku, penjaga toko, apapun lah.

(Disini saya mulai dilanda kangen dengan orang-orang yang menghilang atau tiada)

Mengutip Shakespeare yang bilang 'dunia ini adalah panggung sandiwara' (yang lalu dilagukan dengan apik oleh God Bless), maka saya, kamu, dia, mereka, adalah anggota sebuah himpunan besar dimana big scenario sedang berlangsung hingga bumi berhenti berputar. Kita pun sudah diberi jatah naskah masing-masing. Dalam lakon-lakon kecil inilah kita berperan. Bisa jadi dalam perjalanan pulang ke Jogja saya naik kereta ekonomi dan ibu-ibu di sebelah saya ngajak ngobrol tentang anak-anaknya yang cuma lulusan SMP, suaminya yang jualan bakso dan dia yang jadi pembantu rumah tangga di Jakarta. Dari sini saya sadar bahwa apa yang saya punya, meski sederhana, adalah kemewahan bagi si Ibu dan sepantasnya saya bersyukur. Mungkin ini picik, merasa beruntung jika ada pembanding yang lebih menderita. Tapi bukankah saya adalah pembanding juga untuk orang-orang yang lebih beruntung di atas saya? Dan peranan si ibu tanpanama ini (karena obrolan di kereta sering mengalir tanpa perkenalan) adalah sebagai alat penyadar bahwa dunia tidak melulu harus diisi dengan sepatu baru berharga lebih dari gaji karyawan warnet, ponsel terkini yang harus dicicil dengan sepertiga gaji selama setahun, atau penyangga kelenjar susu seharga 20 selimut yang sangat diperlukan satu panti asuhan.

Karenanya, jadilah aktor yang baik dan tuntaskan peran dengan sempurna, karena ganjarannya nanti lebih dari sekedar patung cowok botak bugil bersepuh emas.

(pit)

No comments: